Mengenal LaTeX untuk Penulisan Artikel Ilmiah

Jakarta – Dalam dunia IT, paket Office yang berbasis WYSIWYG (What You See is What You Get) sudah menjadi standar industri dalam penggunaan di perkantoran, sekretariat, dan tata usaha. Microsoft Office, iWork, Libre Office dan Open Office adalah beberapa aplikasi standard untuk keperluan itu. 
 
Namun, dalam scientific writing, ternyata office WYSIWYG bukanlah satu-satunya opsi dalam menulis artikel ilmiah. Tersedia juga LaTeX untuk keperluan tersebut. 
 
Sesuai definisi di sini, LaTeX adalah bahasa markup atau sistem penyiapan dokumen untuk peranti lunak TeX. Lalu, untuk apa LaTeX ini? Apa perbedaannya dengan aplikasi Office? Mari kita simak!
 
 
Penggunaan LaTeX
 
Ini adalah bahasa pemrograman, bukan aplikasi WYSIWYG. Kode harus di-compile agar memproduksi dokumen. Hal ini tidak berbeda dengan bahasa lain seperti C++ dan Java. 
 
Format yang umum digunakan adalah Portable Document Format (PDF) dan Postscript. Jika sudah familiar dengan markup language seperti HTML, maka akan sangat mudah untuk memahami LaTeX. 
 
Contoh sederhana penggunaan LaTeX adalah seperti ini: 
 
\begin{abstract} 
 
\footnotesize The genomic inventory of protein domains is an important indicator of an organism’s regulatory and metabolic capabilities. Existing gene annotations, however, can be plagued by substantial ascertainment biases that make it….
 
\footnote{\small 4$^{th}$ German Conference on Bioinformatics 2012. Jena. September 19-22, 2012}
 
\end{abstract}
 
Penjelasannya, tag ‘\begin{abstract}’ menandakan dimulainya penulisan bagian abstrak, yang diakhiri oleh tag ‘\end{abstract}’. Sementara itu, ‘\footnotesize’ dan ‘\small’ adalah tag yang menandakan ukuran huruf dalam kalimat. 
 
Tag ‘\footnote’ berfungsi untuk memberikan catatan kaki pada tulisan tersebut. Demikian penjelasan singkat mengenai LaTeX.
 
Wah, jadi LaTeX tidak berbeda dengan bahasa pemrograman lain karena harus melakukan coding? Jadinya sukar digunakan dong? Ternyata tidak demikian, karena LaTeX dapat di-compile menggunakan front end berbasis GUI. Contohnya MacTex, yang biasa digunakan pada MacOSX. 
 
Sementara itu, MiKTeX dapat digunakan di platform Windows. Pada Linux, ada juga paket GNU TeXmacs untuk keperluan serupa. Dan jika kita sedikit saja melakukan googling, sangat banyak tersedia tutorial yang dapat membantu kita memahami LaTeX. 
 
Template untuk artikel ilmiah, disertasi, bahkan presentasi (beamer) juga tersedia, dan kita hanya melakukan sedikit penyesuaian sebelum di-compile. LaTeX juga didukung oleh komunitas yang kuat di berbagai milis, yang selalu siap membantu siapapun yang tertarik. 
 
Reference Manager LaTeX 
 
Nah, bagi yang terbiasa menggunakan aplikasi Office, kemungkinan pernah menggunakan Reference Manager (RefMan) seperti EndNote. Secara default, RefMan untuk LaTeX harus di-coding, dan di-compilejuga, sama seperti dokumen utama. 
 
BibTex adalah format standard untuk sitasi referensi dalam LaTex. Namun, kita tidak perlu khawatir untuk mengatur kode perintah, sebab sudah disediakan RefMan yang dapat membantu pekerjaan kita.
 
Beberapa RefMan yang umum digunakan untuk aplikasi Office, seperti Mendeley Desktop dan lainnya, dapat mengeksport citation ke dalam format BibTex. RefMan yang digunakan oleh penulis adalah JabRef, yang merupakan program Java, yang multiplatform. 
 
JabRef memiliki fitur automatic citation, yang memungkinkan kita melakukan pencarian otomatis terhadap sitasi di database PubMed/Medline. Sehingga, sitasi dapat secara otomatis disimpan dalam format BibTex. Rasanya, dengan banyaknya opsi untuk RefMan, seharusnya sitasi dapat diatur dengan mudah, sesuai dengan selera kita.
 
LaTeX & Rumus Matematika
 
Nah, di poin inilah, menurut banyak pendapat, keunggulan LaTeX terlihat nyata dibandingkan aplikasi Office. Walaupun aplikasi Office juga memiliki Equation Editor, banyak yang berpendapat bahwa bagaimanapun LaTeX lebih superior untuk menangani rumus matematika. 
 
Namun terlepas perdebatan mengenai superioritas masing-masing package, harus ditekankan bahwa Office dan LaTeX tidak seyogyanya dibandingkan secara apple to apple. 
 
Dalam bidang studi yang tidak memerlukan banyak penggunaan rumus matematika, mungkin aplikasi Office sudah cukup untuk membantu. Sementara, jika bidang studi kita bersinggungan dengan sains dan teknologi, terutama hard core computation, Fisika dan Matematika Teoritis, rasanya LaTeX yang dapat lebih banyak berperan di sini.
 
Lalu bagaimana membuat rumus dalam LaTeX? Caranya tidak lebih sama dengan yang disebut di atas, yaitu menggunakan tag dan simbol yang kemudian di-compile. Namun, apakah sukar menulis rumus di LaTeX? Ternyata tidak demikian, karena front end GUI juga tersedia untuk penulisan rumus matematika. 
 
Di MacOSX, untuk keperluan itu, tersedia LaTeXiT. Bahkan wikipedia menyediakan daftar lengkap mengenai rumus matematika LaTeX yang umum digunakan di sini. Tutorial dan Template rumus juga sangat banyak tersedia di web.
 
LaTeX Bukan untuk Menggusur Office
 
Sebenarnya, Office dan LaTeX tidak bersaing dalam pasar yang sama. Kedua package tersebut memilikiniche sendiri, walau tentu saja, Office memiliki niche yang jauh lebih besar. 
 
Submission artikel ke jurnal ilmiah umumnya juga diberikan opsi dalam format PDF. Tentu saja hal ini sangatwelcome jika di-compile dengan LaTeX, selama kita juga menyediakan source code dan file gambar kepada penerbit. 
 
Selain submission ke jurnal ilmiah, menulis skripsi/tesis/disertasi juga merupakan hal yang lumrah dilakukan dengan LaTeX. 
 
Penulis sendiri pernah menulis tugas akhir dan publikasi ilmiah dengan Office dan LaTeX, dan menemukan bahwa kedua package tersebut memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing. 
 
Namun selama skill programming bukan masalah, LaTeX juga dapat dinikmati kemudahannya, seperti juga Office. Walaupun demikian, tidak ada masalah mana yang user lebih sukai. 
 
Dalam konteks akademis, pemilihan penggunaan Office dan LaTeX adalah murni adalah kebijakan dari Peer Group riset yang bersangkutan. Oleh karena itu, hal ini bisa berbeda antara satu institusi, dengan yang lain, dan tidak bisa digeneralisir. 
 
Sementara itu, di dunia bisnis/korporasi, tentu saja paket Microsoft Office merupakan standard de facto untuk aplikasi produktifitas.
 
Adapun jika pada akhirnya terpaksa juga Office dan LaTeX dibandingkan secara apple to apple, user akan untung juga. Aplikasi Office, seperti Libre, Neo dan Open Office, adalah aplikasi Open Source, sementara jelas LaTeX adalah Open Source. 
 
Pada akhirnya, ‘benchmarking’ antara LaTeX dan Office, jika diletakkan dalam kacamata Open Source, selalu akan menguntungkan komunitas yang menggunakannya.
 

Leave a Reply